Senja di Pinggir Pantai
Hari itu, matahari perlahan-lahan tenggelam di balik cakrawala, memancarkan cahaya jingga yang hangat di sepanjang pantai. Seorang pemuda bernama Arman duduk sendirian di atas pasir, menatap ke arah laut yang mulai berubah warna menjadi biru keunguan. Ombak kecil terus menghantam pantai dengan irama yang menenangkan.
Arman merasa kehilangan arah. Beberapa bulan lalu, dia kehilangan pekerjaan yang dicintainya, dan sejak itu, hidupnya terasa stagnan. Dia sering menghabiskan waktu di pantai ini, berharap menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menghantuinya.
Tiba-tiba, dia melihat seorang perempuan tua berjalan menuju ke arahnya. Dia membawa sebuah tas kecil dan tersenyum hangat saat melihat Arman. "Selamat sore, Nak," katanya lembut. "Apa kamu baik-baik saja?"
Arman terkejut, tapi dia membalas senyum perempuan tua itu. "Saya baik-baik saja, Bu. Hanya menikmati senja," jawabnya.
Perempuan tua itu duduk di sebelah Arman dan mengeluarkan sebuah buku kecil dari tasnya. "Aku suka membaca di sini saat senja. Ada sesuatu yang membuat pikiran lebih jernih," katanya sambil membuka buku.
Mereka duduk diam sejenak, menikmati suasana senja bersama. Arman tidak bisa tidak memperhatikan bagaimana perempuan tua itu tersenyum setiap kali membaca sesuatu dari buku itu.
"Apa itu, Bu?" tanya Arman penasaran.
"Ini buku harian aku," jawabnya. "Aku menuliskan hal-hal baik yang terjadi setiap hari. Ini membantuku melihat hidup dari perspektif yang lebih positif."
Arman terinspirasi. "Bisa aku tahu apa yang Bu tulis hari ini?" tanyanya.
Perempuan tua itu tersenyum. "Hari ini, aku menulis tentang senja yang indah, tentang ombak laut yang menenangkan, dan tentang seseorang yang aku temui di pantai ini," katanya sambil menatap Arman.
Arman merasa ada sesuatu yang menyentuh hatinya. Dia menyadari bahwa hidup ini penuh dengan keindahan, bahkan di saat-saat sulit sekalipun. "Terima kasih, Bu," katanya dengan tulus.
Perempuan tua itu tersenyum. "Tidak perlu berterima kasih, Nak. Ingatlah, setiap hari membawa kesempatan baru. Jangan pernah menyerah."
Saat senja semakin memudar, Arman merasa ada secercah harapan dalam dirinya. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk melihat hidup dengan lebih positif dan menemukan keindahan dalam setiap momen.
Dan ketika dia berpamitan untuk pulang, perempuan tua itu memberinya secarik kertas dari buku hariannya. Di atasnya tertulis: "Keindahan ada di mana-mana, jika kamu tahu cara melihatnya."
Arman tersenyum, merasa bahwa hari itu dia menemukan sesuatu yang berharga. Dia melangkah pulang dengan hati yang lebih ringan, menyambut masa depan dengan harapan baru.
Komentar
Posting Komentar